Sabtu, 02 Mei 2026

Hardiknas 2026: Menanam Benih Karakter, Memanen Generasi Berkualitas

Hari ini, kita kembali diingatkan pada sosok Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia yang filosofinya, “Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, tetap relevan meski zaman sudah serba digital. Peringatan Hardiknas tahun ini terasa spesial karena mengusung tema penting: “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.

Hardiknas kali ini menegaskan bahwa pendidikan karakter adalah fondasi utama. Karakter itu ibarat akar pohon. Semakin kuat akarnya, semakin kokoh pohonnya, dan semakin lebat buahnya. Karakter (akar) tersebut sering terlupakan di tengah gempuran teknologi, dan serba cepatnya arus informasi. Kadang kita lupa, bahwa anak pintar saja tidak cukup. Bagaimana jadinya, jika anak pintar tapi tidak jujur?, atau anak jenius tapi tak punya empati?

Dengan menanamkan benih karakter seperti: kejujuran, kedisiplinan, toleransi, empati, dan pantang menyerah pada diri anak, kita dapat berharap untuk memanen generasi yang berkualitas, yaitu generasi yang tak hanya jago Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), tapi juga punya akhlak yang mulia dan berbudaya. Untuk itu partisipasi semesta dari semua entitas (sekolah, keluarga, dan masyarakat) harus nyambung. Sekolah (Guru) tidak lagi sekadar menjadi sumber transfer ilmu, tapi sebagai mentor dan fasilitator yang menginspirasi. Sehingga guru bukan cuma mengajar, namun juga harus menjadi teladan. Rumah (orang tua) adalah madrasah pertama. Melalui keluarga, karakter banyak dibangun dari meja makan, dari kebiasaan cara bicara, dan dari cara menghargai terhadap sesama. Masyarakat (lingkungan) adalah tempat yang aman dan suportif bagi anak untuk berkarya.

Generasi emas yang berkualitas adalah mereka (individu) yang adaptif, berpikir kritis, namun tetap berpijak pada akar budaya lokal. Menanam benih karakter memang tidak bisa instan, butuh komitmen dan kesabaran serta konsistensi. Kita sedang menanam masa depan, bukan sekadar menyiapkan ujian untuk besok pagi. Untuk itu, mari kita jadikan Hardiknas 2026 ini sebagai titik balik untuk bergerak serentak, berkolaborasi semesta, dan menanam benih karakter untuk memanen generasi emas yang berkualitas. Selamat Hari Pendidikan Nasional! Teruslah belajar dan teruslah berkarya! (Makruf S Marmah)


Senin, 13 April 2026

Dari PMM ke SINDARA: Ganti Perahu dengan Navigasi Baru, Arah Kompas Tidak Pernah Berubah

 

Dunia pendidikan adalah panggung perubahan yang tak pernah berhenti bergerak. Di tengah rutinitas mengajar, para pendidik kembali dihadapkan pada transisi teknologi baru: peralihan kemudi dari Platform Merdeka Mengajar (PMM) menuju Platform SINDARA (Sistem Informasi dan Integrasi Data Guru Pendidikan Dasar). Wajar jika di sudut-sudut ruang guru terdengar helaan napas panjang atau pertanyaan retoris, "Aplikasi baru lagi?", "Mengapa harus berganti lagi?" Namun, jika kita menyelam lebih dalam, transisi ini sejatinya adalah sebuah upaya untuk memanusiakan kembali proses belajar guru.

Tidak bisa dimungkiri, PMM telah berjasa besar dalam mendemokratisasi akses pelatihan guru di seluruh pelosok negeri. Modul-modulnya menjadi referensi utama implementasi Kurikulum Merdeka. Sayangnya, seiring berjalannya waktu, muncul fenomena "berburu sertifikat" yang tak jarang memicu kelelahan digital. Niat awal untuk mengembangkan diri kadang terdistraksi oleh tumpukan target administratif, sehingga membuat sebagian guru merasa berlari sendirian.

Kehadiran SINDARA bukanlah untuk menghapus jejak kebaikan masa lalu, melainkan hadir sebagai penyempurna. Jika PMM membuat kita terbiasa belajar mandiri secara individu, SINDARA mengajak kita untuk kembali berjalan bergandengan tangan.

Platform baru ini mengembalikan muruah belajar guru ke "rumah" sejatinya, yakni komunitas belajar seperti KKG (Kelompok Kerja Guru), KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), dan KKPS (Kelompok Kerja Pengawas Sekolah). Sistem ini dirancang agar guru tidak lagi berkompetisi mengumpulkan poin sendirian, melainkan berkolaborasi, berdiskusi hangat, dan saling mendukung dalam komunitas. Melalui wadah inilah, guru diajak menyelami isu-isu pendidikan masa depan, seperti Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) hingga kecerdasan buatan, dengan cara yang lebih membumi dan kontekstual.

Tentu saja, setiap sistem baru pasti membawa tantangan tersendiri. Kita harus kembali belajar login, beradaptasi dengan fitur-fitur baru, dan mengaktifkan kembali roda organisasi komunitas. Di sinilah pola pikir bertumbuh (growth mindset) kita sebagai pendidik benar-benar diuji.

Saatnya kita mengubah sudut pandang. Jangan lagi melihat SINDARA sekadar sebagai "kewajiban dari dinas", melainkan sebagai ruang diskusi intelektual yang menyenangkan bersama rekan sejawat. Bagi yang sudah mahir teknologi, rangkullah mereka yang masih kesulitan. Bagi yang merasa tertinggal, jangan ragu meminta bantuan dari guru-guru yang lebih muda.

Pada akhirnya, secanggih apa pun sebuah sistem atau aplikasi, ia hanyalah alat bantu administrasi. Roh sesungguhnya dari pendidikan tidak terletak pada server digital, melainkan pada dedikasi, keikhlasan, dan senyuman seorang guru di dalam ruang kelas.

Ada sebuah pepatah mengatakan, "Guru yang berhenti belajar, sejatinya telah berhenti mengajar." Mari kita jadikan perubahan sistem ini sebagai bukti bahwa kita adalah pembelajar sepanjang hayat.

Mari kita sambut SINDARA dengan tangan terbuka dan semangat kebersamaan. Kita mungkin harus berganti perahu dan mempelajari navigasi yang baru, namun arah kompas kita tidak pernah berubah, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Tetap semangat dan teruslah menyala wahai Para Pahlawan Tanpa Tanda Jasa! (Makruf S. Marmah)

Selasa, 24 Maret 2026

Menenun Kembali Benang yang Terurai: Makna Mendalam di Balik Tradisi Ujung dan Maaf di Hari Fitri

Gema takbir yang berkumandang di hari raya Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya masa lapar dan dahaga, melainkan sebuah undangan terbuka untuk pulang. Bukan hanya pulang ke kampung halaman secara fisik, tetapi pulang ke fitrah kemanusiaan kita yang paling mendasar: yakni saling mengasihi dan memaafkan.

Di tengah masyarakat kita, tradisi "badan" atau "ujung" (silaturahmi dari rumah ke rumah) telah menjadi napas perayaan Idul Fitri yang tak tergantikan. Di balik keriuhan dan sajian khas lebaran, tersimpan filosofi mendalam tentang cara kita merawat hubungan antarmanusia (hablum minannas)

Lebaran: Jembatan di Atas Jurang Ego
Seringkali, kesibukan dan perbedaan pandangan menciptakan jarak yang tak kasat mata di antara keluarga maupun rekan sejawat. Tradisi silaturahmi saat Idul Fitri hadir sebagai momen "gencatan senjata" atas segala ego.
Meminta maaf dan memberi maaf bukan sekadar ritual lisan. Ia adalah proses detoksifikasi hati. Mengucapkan "Mohon Maaf Lahir dan Batin" berarti kita telah sepakat untuk meluruhkan beban masa lalu dan menuliskan catatan baru di atas kertas yang bersih. Inilah kemenangan yang sesungguhnya, saat kita berhasil mengalahkan rasa gengsi untuk mengakui kesalahan.

Angpau dan THR: Simbol Kegembiraan bagi Sang Penerus
Satu hal yang selalu mengiringi langkah kaki saat silaturahmi adalah keceriaan anak-anak. Tradisi memberikan angpau atau THR (Tunjangan Hari Raya) kepada anak-anak saat mereka datang "ujung" bukanlah sekadar soal nominal uang. Ada hikmah mendalam yang tersirat dalam amplop-amplop kecil tersebut:
Pertama: Apresiasi bagi anak-anak yang telah belajar berpuasa. Angpau adalah bentuk penghargaan atas perjuangan dan kesabaran mereka.
Kedua: Pelajaran berbagi, tradisi ini mengajarkan kepada anak-anak bahwa hari raya adalah tentang kebahagiaan yang dibagi, bukan dinikmati sendiri.
Ketiga: Perekat kedekatan, senyum tulus seorang anak saat menerima "hadiah" kecil menciptakan memori kolektif yang sangat manis tentang hangatnya ikatan keluarga dan lingkungan sosial.

Idul Fitri adalah momentum emas untuk menyambung kembali benang-benang persaudaraan yang mungkin sempat terurai atau bahkan kusut. Dengan saling memaafkan dan berbagi keceriaan, kita sedang membangun fondasi masyarakat yang lebih harmonis dan suportif. Mari kita jadikan setiap langkah kaki saat "ujung" sebagai langkah menuju pribadi yang lebih luas hatinya dan lebih dermawan jiwanya. Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim. (Makruf S Marmah)

Senin, 09 Maret 2026

Menyemai Masa Depan Cerah: SDN Sidowangi Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan

KAJORAN. Di tengah semangat kolaborasi yang membara, Senin (9/3) di SDN Sidowangi telah dilaksanakan Observasi Praktik Kinerja Kepala Sekolah. Dengan pendampingan Pengawas Sekolah, agenda tersebut bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan kewajiban untuk mewujudkan sekolah impian yang lebih baik bagi masyarakat. Pada kesempatan tersebut, Kepala SDN Sidowangi, Yuni Kurniawati, S.Pd. mempresentasikan capaian dan rencana satu tahun ke depan di hadapan semua guru dan staf dalam suasana yang penuh harapan dan keakraban.

Mengacu pada Raport Pendidikan terbaru, presentasi Kepala Sekolah menjadi momen penting untuk melakukan refleksi yang jujur dan membangun. Beliau menyampaikan pencapaian tahun lalu dan sekaligus mengakui tantangan utama yang harus dihadapi yaitu terkait peningkatan literasi dan numerasi yang skornya masih rendah. Pada kesempatan tersebut Kepala Sekolah mengajak semua guru untuk terus semangat dan merancang program ke depan dengan lebih matang, utamanya dalam hal peningkatan kompetensi guru, termasuk pemanfaatan IFP (Interactive Flat Panel) agar dapat tercipta suasana belajar yang lebih bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful) dan menggembirakan (joyful)

Usai sesi presentasi, dilanjutkan dengan diskusi santai namun tetap fokus pada hasil refleksi dan rencana tindak lanjut. Pada kesempatan itu para guru saling berbagi ide kreatif dalam memanfaatkan IFP melalui aplikasi kuis, permainan angka (matematika dasar), dengan menerapkan strategi bermain sambil belajar. Pada akhir diskusi dihasilkan kesepakatan penting,tentang jadwal Kombel Sekolah (Komunitas Belajar Sekolah) yang akan dilaksanakan secara rutin satu kali sebulan, di mana setiap guru terjadwal secara bergantian menjadi narasumber sesuai kompetensinya untuk saling berbagi praktik baik.

Di akhir sesi diskusi, Makruf Sodikin, S.Pd., MM.Pd. selaku Pengawas Sekolah berpesan bahwa segala sesuatu yang telah diprogramkan mohon untuk dikawal agar benar-benar terlaksana, dan mohon dipastikan juga agar setiap kegiatan yang akan dilaksanakan betul-betul telah terprogram dengan baik, sehingga setiap program bisa dipastikan akan membawa dampak nyata untuk peningkatan mutu Pendidikan di sekolah. (Makruf S Marmah)

Kamis, 19 Februari 2026

Peta Jalan Komunitas Kajoran Sinau: Kolaborasi Tanpa Batas, Dari Refleksi Menjadi Aksi

Udara sejuk Balkondes Karangrejo Borobudur, pada Jumat (13/2/2026) lalu menjadi saksi semangat membara para pendidik dari Kecamatan Kajoran. Bukan sekadar rapat biasa, dua puluh orang penggerak pendidikan yang tergabung dalam Komunitas Belajar Kajoran Sinau berkumpul untuk menyatukan visi, merefleksikan langkah, dan menyusun strategi besar untuk satu tahun ke depan.

Lebih Dari Sekadar Komunitas

"Di Kajoran, potensinya sangat luar biasa," ujar Makruf Sodikin, Korwil Disdikbud Kecamatan Kajoran. Pernyataan ini bukan isapan jempol semata. Untuk itu, Kajoran membutuhkan wadah kreativitas yang mampu menampung energi besar para guru dan tenaga kependidikan, dan wadah itu bernama Kajoran Sinau.

Ketua PGRI Cabang Kajoran, Muhammad Ainur Rofiq, menyebutnya sebagai "Kolaborasi riil". Di sini, sekat-sekat latar belakang melebur. Guru seni, ahli IT, jagoan public speaking, desainer grafis, videografer, hingga pegiat literasi duduk dalam satu meja. Mereka tidak saling bersaing, melainkan saling melengkapi, menjadi paket lengkap untuk kemajuan Pendidikan di Kecamaan Kajoran.

Tantangan Adalah Bahan Bakar

Apakah perjalanan mereka mulus? Tentu saja tidak. Diskusi yang dipimpin oleh Ketua Komunitas, Anggun Pribowo, secara terbuka membedah kendala di lapangan. Mulai dari keterbatasan peralatan hingga padatnya jam terbang para personel.

Namun, justru di situlah letak kekuatannya. Tantangan tidak membuat mereka berhenti, melainkan memicu kreativitas. Melalui diskusi yang hangat, lahirlah Rencana Tindak Lanjut (RTL) yang solid. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan fasilitas bisa diterobos dengan mindset yang tak terbatas.

Menatap Masa Depan: Dari Musik Hingga Literasi

Kajoran Sinau tidak hanya bergerak di dalam kelas. Mereka telah merambah dunia digital lewat kanal YouTube, menjadi event organizer andal, hingga menghibur lewat grup band Harmoni in Diversity.

Kini, gebrakan baru sedang disiapkan. Divisi literasi tengah bergerak mengumpulkan guru-guru yang memiliki passion di bidang menulis. Mimpi besarnya? Menerbitkan buku karya guru-guru Kajoran! Ini adalah langkah konkret untuk menguatkan budaya literasi, bukan hanya lewat slogan, tapi lewat karya nyata.

Kisah dari Balkondes Karangrejo Borobudur ini mengirimkan sinyal kuat: Pendidikan akan maju jika kita mau bergerak bersama. Jangan menunggu sempurna untuk memulai, tapi mulailah untuk menyempurnakan. (Makruf S Marmah)


Rabu, 31 Desember 2025

Goresan Pena di Penghujung 2025: Nyawa Ilmu yang Terlupa

(Photo dok pribadi)
Mencerdaskan anak bangsa bukan hanya sekedar tugas untuk mengisi kepala mereka dengan rumus dan teori saja, melainkan juga kewajiban untuk mengisi hati mereka dengan kebajikan dan kerendahan hati. Mari kita kembalikan marwah pendidikan sebagai proses penempaan jiwa, di mana guru dimuliakan dan ilmu diterima dengan penuh rasa syukur serta adab yang tulus.

Di penghujung 2025, telah terbit buku berjudul: Nyawa Ilmu yang Terlupa (Penerbit Alinea). Karya para praktisi pendidikan ini penuh dengan kisah nyata dan renungan inspiratif yang bikin kita sadar, bahwa ilmu bukan sekadar tumpukan data, tapi cahaya abadi yang butuh hati beradab sebagai wadahnya. Buku ini ibarat panggilan hati untuk bangun dari kelalaian kita.

Di tengah derasnya arus perkembangan digital, banyak orang pintar tapi kurang bijak. Banyak orang yang tahu segalanya, tapi lupa menghargai guru sebagai sumber cahaya. Salah satu cerita yang menarik dalam buku ini adalah tulisan "Adab Murid Terhadap Guru: Warisan yang Terabaikan" karya Makruf S. Marmah. Melalui tulisan tersebut, pembaca diajak untuk menelusuri kembali nilai-nilai dasar Pendidikan, yaitu kesopanan yang hangat, kerendahan hati yang tulus, dan keikhlasan dalam menimba ilmu.

Ingat kata-kata bijak "Adab lebih tinggi dari ilmu ?" Jangan jadikan hal itu hanya sekadar kutipan di instagram. Biarkan hal itu menjadi api yang menyala di setiap kebijakan sekolah, setiap pelajaran, dan setiap langkah belajar kita. Dengan adab, ilmu akan berbuah kebijaksanaan. Tanpa adab, ilmu hanya akan melahirkan keangkuhan. (Makruf S. Marmah)

Minggu, 21 Desember 2025

Dolan Bareng, Seneng Bareng: Merajut Harmoni di Bumi Banyuwangi

Angin sejuk Bulan Desember menyambut rombongan Kelompok Kerja Kepala Sekolah (K3S) Dwija Rembug Kecamatan Kajoran Kabupaten Magelang dalam sebuah perjalanan yang bukan sekadar refreshing, melainkan sebuah ritual "pulang" ke dalam hangatnya kekeluargaan. Mengusung tema "Dolan Bareng, Seneng Bareng", kegiatan tersebut menjadi momentum emas untuk mempererat tali silaturahmi, terutama bagi para purna karya dan calon purna karya.

Perjalanan selama tiga hari tersebut (12 s/d 14 Desember 2025) menyuguhkan rangkaian destinasi yang memanjakan mata sekaligus menyentuh jiwa:

Taman Nasional Baluran (Little Africa in Java): Di hamparan savana Bekol yang luas, para anggota K3S diingatkan akan kemegahan alam. Berdiri di antara pohon-pohon eksotis dengan latar belakang Gunung Baluran, tawa pecah saat sesi foto bersama. Di sini, filosofinya jelas: seperti ekosistem savana yang saling menopang, begitu pula K3S Kajoran yang tetap tangguh karena kebersamaan.

Pantai Bangsring: Kedekatan dengan alam bawah laut melalui konservasi terumbu karang mengajarkan kita tentang kepedulian. Para peserta diajak untuk sejenak melepaskan beban rutinitas dan menyelami ketenangan, mengingatkan bahwa pengabdian di dunia pendidikan juga merupakan bentuk pelestarian masa depan.

Pulau Merah: Menjelang senja, semburat warna merah di cakrawala menjadi saksi bisu keakraban para pendidik/kepala sekolah. Di atas pasir yang halus, obrolan santai antar kepala sekolah senior dan yunior mengalir hangat, mentransfer semangat dan pengalaman tanpa sekat.

Momen paling menyentuh adalah saat berkumpul bersama di Resto & Villa Yogi di kawasan Pulau Merah, sebagai bentuk penghormatan bagi Purna Karya dan Calon Purna Karya. Bagi mereka yang telah melewati masa bakti, perjalanan ini adalah bentuk apresiasi setinggi-tingginya. Sedangkan bagi yang segera akan menyusul, ini adalah penguat bahwa "purna tugas" hanyalah perpindahan tugas, bukan pemutusan tali persaudaraan.

Terima kasih kepada para purna karya atas inspirasinya, dan semangat bagi para calon purna karya untuk terus memberikan yang terbaik hingga garis finish. Sampai jumpa di perjalanan penuh makna berikutnya! (Makruf S Marmah)

Hardiknas 2026: Menanam Benih Karakter, Memanen Generasi Berkualitas

Hari ini, kita kembali diingatkan pada sosok Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia yang filosofinya, “Ing ngarso sung tuladha, ing ...