Hari ini, kita kembali diingatkan pada sosok Ki Hajar Dewantara, Bapak Pendidikan Indonesia yang filosofinya, “Ing ngarso sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani”, tetap relevan meski zaman sudah serba digital. Peringatan Hardiknas tahun ini terasa spesial karena mengusung tema penting: “Menguatkan Partisipasi Semesta, Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Hardiknas kali ini menegaskan
bahwa pendidikan karakter adalah fondasi utama. Karakter itu ibarat akar pohon.
Semakin kuat akarnya, semakin kokoh pohonnya, dan semakin lebat buahnya. Karakter
(akar) tersebut sering terlupakan di tengah gempuran teknologi, dan serba cepatnya
arus informasi. Kadang kita lupa, bahwa anak pintar saja tidak cukup. Bagaimana
jadinya, jika anak pintar tapi tidak jujur?, atau anak jenius tapi tak punya
empati?
Dengan menanamkan benih karakter
seperti: kejujuran, kedisiplinan, toleransi, empati, dan pantang menyerah pada
diri anak, kita dapat berharap untuk memanen generasi yang berkualitas, yaitu generasi
yang tak hanya jago Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), tapi juga punya
akhlak yang mulia dan berbudaya. Untuk itu partisipasi semesta dari semua
entitas (sekolah, keluarga, dan masyarakat) harus nyambung. Sekolah (Guru) tidak
lagi sekadar menjadi sumber transfer ilmu, tapi sebagai mentor dan fasilitator
yang menginspirasi. Sehingga guru bukan cuma mengajar, namun juga harus menjadi
teladan. Rumah (orang tua) adalah madrasah pertama. Melalui keluarga, karakter banyak
dibangun dari meja makan, dari kebiasaan cara bicara, dan dari cara menghargai
terhadap sesama. Masyarakat (lingkungan) adalah tempat yang aman dan suportif
bagi anak untuk berkarya.
Generasi emas yang berkualitas adalah
mereka (individu) yang adaptif, berpikir kritis, namun tetap berpijak pada akar
budaya lokal. Menanam benih karakter memang tidak bisa instan, butuh komitmen
dan kesabaran serta konsistensi. Kita sedang menanam masa depan, bukan sekadar
menyiapkan ujian untuk besok pagi. Untuk itu, mari kita jadikan Hardiknas 2026
ini sebagai titik balik untuk bergerak serentak, berkolaborasi semesta, dan menanam
benih karakter untuk memanen generasi emas yang berkualitas. Selamat Hari
Pendidikan Nasional! Teruslah belajar dan teruslah berkarya! (Makruf S Marmah)






