Selasa, 21 Juli 2026

REFLEKSI PENDAMPINGAN

Refleksi Pendampingan: Membumikan Teknologi dalam Pembelajaran Demi Mewujudkan Keadilan Akses Pendidikan

Oleh Makruf Sodikin
(Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang)

Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir, lanskap peradaban manusia telah mengalami pergeseran, di mana teknologi telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Transformasi ini menyentuh hampir seluruh aspek fundamental eksistensi manusia. Cara kita bekerja, berkomunikasi, mencari informasi, hingga belajar, semuanya berubah karena kehadiran perangkat digital dan internet. Tidak ada satu pun institusi yang kebal terhadap disrupsi ini, termasuk institusi pendidikan.

Di bidang pendidikan, perubahan ini menghadirkan harapan besar: pembelajaran bisa menjangkau lebih banyak murid, lebih fleksibel, dan lebih kaya sumber belajar. Ruang kelas tidak lagi dibatasi oleh dinding tembok; ia kini berekspansi menjadi ruang-ruang virtual tanpa batas yang mampu memfasilitasi pertukaran ide dari seluruh penjuru dunia. Namun, di balik peluang dan eforia transformasi tersebut, muncul pertanyaan penting yang harus dijawab oleh para pemangku kebijakan dan praktisi pendidikan: apakah semua murid benar-benar memiliki akses yang setara terhadap teknologi pembelajaran?

UNESCO menegaskan bahwa pembelajaran digital harus menjadi alat inklusi, bukan justru memperlebar kesenjangan. Arahan ini menjadi sangat krusial di tengah upaya kita mengawal Kurikulum Merdeka, yang berlandaskan pada prinsip keadilan dan keberpihakan pada murid. 

Statistik vs Realitas Ketimpangan

Gagasan mengenai keadilan akses pendidikan menjadi semakin relevan ketika kita melihat distribusi teknologi yang belum merata. Di satu sisi, perangkat digital telah menjadi bagian dari keseharian mayoritas pelajar Indonesia. Data Susenas Maret 2025 merekam angka penggunaan telepon seluler yang sangat masif di kalangan murid usia 5 – 23 tahun:

·         Jenjang SD: 75,49%

·         Jenjang SMP: 92,45%

·         Jenjang SMA/SMK: 97,83%

·         Pendidikan Tinggi: 99,51%

Data penggunaan internet pun linear dengan kepemilikan gawai, yakni mencapai 72,26% di SD, 91,04% di SMP, 97,47% di SMA/SMK, dan 99,29% di perguruan tinggi.

Akan tetapi, kepemilikan gawai pintar (telepon seluler) tersebut tidak lantas menjamin kualitas pembelajaran yang bagus. Di sisi lain, kepemilikan dan penggunaan komputer atau laptop masih jauh lebih rendah, terutama di jenjang pendidikan dasar. Padahal, untuk mengembangkan keterampilan abad ke-21 seperti pemrograman dasar, desain grafis, hingga penulisan karya ilmiah, ekosistem perangkat komputer jauh lebih memadai dibandingkan sekadar layar sentuh telepon seluler. Ketimpangan inilah yang membuat pembahasan tentang teknologi dalam pembelajaran tidak cukup hanya bicara soal kecanggihan, tetapi juga soal pemerataan. Keadilan pendidikan menuntut kita untuk bergerak melampaui statistik kepemilikan, menuju pada pemaknaan sejauh mana teknologi mampu menciptakan ekosistem belajar yang memerdekakan. 

Realitas Lapangan dan Tantangan Geografis

Pengalaman pembelajaran daring pada masa pandemi membuktikan bahwa teknologi mampu menjaga keberlangsungan pendidikan saat tatap muka tidak memungkinkan. Saat itu jutaan guru dan siswa dipaksa untuk beradaptasi dengan cepat. Platform daring, video konferensi, dan sumber belajar digital membantu guru tetap mengajar dan siswa tetap belajar. Akan tetapi, pengalaman itu juga menunjukkan sisi lain yang tidak boleh diabaikan, yaitu masih banyaknya murid yang kesulitan karena keterbatasan perangkat, sinyal internet, kuota, dan pendampingan belajar di rumah.

Artinya, teknologi memang bisa memperluas akses, tetapi hanya jika didukung oleh kebijakan dan kesiapan yang memadai. Dalam konteks Indonesia yang memiliki tantangan geografis berupa kepulauan dan topografi yang beragam, tantangan utama bukan lagi apakah teknologi diperlukan, melainkan bagaimana membumikan teknologi agar benar-benar terasa manfaatnya di ruang kelas dan tidak hanya menjadi simbol modernitas.

Berdasarkan data penggunaan internet di kalangan murid yang tinggi, menunjukkan bahwa internet sudah menjadi bagian penting dalam pembelajaran. Namun, tingginya angka penggunaan belum otomatis menjamin kualitas aksesnya. Ketersediaan jaringan yang stabil, perangkat yang layak, serta kemampuan literasi digital masih sangat berbeda antarwilayah dan antarkelompok sosial.

Sebagai pengawas sekolah yang telah berinteraksi dengan berbagai karakteristik satuan pendidikan, realitas ini tampak nyata. Sebagai seorang yang hidup di daerah perkotaan, saya sering melihat bagaimana teknologi pembelajaran dapat memperkaya pengalaman belajar. Materi lebih mudah dicari, tugas lebih cepat dikerjakan, dan diskusi bisa berlangsung di luar jam sekolah. Namun, ketika berbincang dengan teman atau kerabat dari daerah yang akses internetnya terbatas, realitasnya sangat berbeda.

Dalam tugas pendampingan di wilayah perifer, sering dijumpai siswa yang harus menumpang sinyal di tempat tertentu, ada yang berbagi satu gawai untuk seluruh anggota keluarga, dan ada pula yang hanya bisa belajar dari materi cetak karena tidak punya perangkat yang memadai. Refleksi sederhana ini menegaskan bahwa keadilan pendidikan tidak cukup diukur dari tersedianya aplikasi belajar, melainkan dari apakah setiap anak punya peluang yang sama untuk menggunakannya. Literasi digital tidak bisa tumbuh subur di atas tanah ketimpangan akses infrastruktur. 

Membumikan Enam Pilar Transformasi Digital dalam Praktik Pendampingan

Menghadapi kompleksitas di lapangan, UNESCO menawarkan kerangka kerja Enam Pilar Transformasi Digital yang holistik berbasis manajemen manusiawi dan berkelanjutan. Sebagai Pengawas Sekolah, enam pilar ini diadopsi menjadi acuan strategis dalam pendampingan dan pembinaan satuan pendidikan:

  1. Koordinasi dan Kepemimpinan: Mengubah peran pengawas dari inspektur administratif menjadi coach dan fasilitator, serta menanamkan digital leadership pada kepala sekolah.
  2. Konektivitas dan Infrastruktur: Mendampingi sekolah mengalokasikan Dana BOSP dalam RKAS secara tepat sasaran untuk pemenuhan fasilitas digital.
  3. Biaya dan Keberlanjutan: Memastikan adanya prosedur pemeliharaan (maintenance) aset digital secara berkala agar investasi teknologi tidak mandek di tahap pengadaan.
  4. Kapasitas dan Budaya: Mendorong budaya kolaborasi antar-guru melalui Komunitas Belajar (Kombel) untuk berbagi praktik baik teknologi pembelajaran.
  5. Konten dan Kurikulum: Mendampingi guru membedah Capaian Pembelajaran (CP) untuk merumuskan Modul Ajar yang mengintegrasikan teknologi tepat guna.
  6. Data dan Bukti: Mendampingi sekolah dalam memanfaatkan Platform Rapor Pendidikan sebagai basis data primer untuk menyusun Perencanaan Berbasis Data (PBD) terkait peningkatan literasi, numerasi, dan transformasi digital. 

Praktik Baik Diferensiasi Pendampingan Sekolah

Berdasarkan regulasi Perdirjen GTK No 4831/2023, pengawas sekolah diamanatkan untuk menjalankan siklus pendampingan yang berfokus pada perencanaan, pelaksanaan, dan refleksi berbasis coaching dan mentoring. Dalam konteks membumikan teknologi, tugas ini bukan sekadar mengecek kelengkapan administrasi guru di Platform Merdeka Mengajar (PMM), melainkan memastikan bahwa integrasi teknologi berdampak langsung pada kualitas layanan murid.

Karena itu, membumikan teknologi dalam pembelajaran harus dimulai dari guru. Guru bukan sekadar pengguna aplikasi, melainkan perancang pengalaman belajar. Jika guru dibekali literasi digital yang baik, mereka dapat memilih teknologi yang sesuai dengan karakter siswa dan tujuan pembelajaran.

Dalam praktik pendampingan di satuan pendidikan binaan, saya menerapkan strategi diferensiasi berdasarkan peta kesiapan sekolah:

  • Sekolah dengan Keterbatasan Infrastruktur: Di sekolah-sekolah yang berada di wilayah pinggiran dengan akses sinyal blank spot, saya menggunakan pendekatan coaching untuk menstimulasi kreativitas Kepala Sekolah dan Guru. Kami bersepakat bahwa ketiadaan internet bukan alasan untuk menolak teknologi. Misalnya, untuk daerah dengan koneksi terbatas, guru dapat memanfaatkan materi berukuran kecil, tugas berbasis proyek, atau platform yang bisa diakses secara luring. Praktik baik yang dihasilkan adalah penggunaan modul interaktif dalam bentuk PDF yang kaya akan hipertaut (hyperlink) internal, pemutaran video luring, dan pemanfaatan Chromebook bantuan kementerian untuk mengakses bahan ajar yang sudah diunduh secara kolektif.
  • Sekolah dengan Ekosistem Digital Mapan: Sebaliknya, untuk kelas dengan akses lebih baik, guru bisa menggabungkan video, simulasi, dan forum diskusi daring agar pembelajaran lebih interaktif. Peran saya sebagai mentor difokuskan pada peningkatan level pedagogi. Saya menantang guru-guru untuk tidak hanya menggunakan proyektor dan Interactive Flat Panel (IFP) sebagai pengganti papan tulis, tetapi mengajak siswa berkolaborasi menggunakan ruang kerja virtual secara real-time, membuat portofolio digital interaktif, serta menggunakan kuis gamifikasi untuk asesmen formatif (seperti Quizizz atau Kahoot).

Praktik baik pendampingan ini menggarisbawahi bahwa pembangunan infrastruktur digitalisasi pendidikan perlu diarahkan ke wilayah yang paling membutuhkan, bukan hanya ke pusat-pusat pertumbuhan ekonomi. Sebagai perpanjangan tangan dinas pendidikan, pengawas bertugas menyuarakan ketimpangan ini dalam forum pengambil kebijakan di daerah. 

Urgensi Literasi Digital di Era Kecerdasan Buatan (AI)

Faktor lain yang kerap menjadi hambatan dalam pemanfaatan teknologi di lapangan adalah kompleksitas. Konten pembelajaran juga harus relevan dan mudah diakses. Banyak platform digital gagal dimanfaatkan secara optimal karena materinya terlalu rumit, terlalu berat untuk diunduh, atau tidak sesuai kebutuhan siswa. Guru sering kali kelelahan menavigasi aplikasi yang tidak ramah pengguna.

Padahal, esensi teknologi dalam pendidikan bukan pada banyaknya fitur, melainkan pada kemudahan mengakses pengetahuan. Konten yang baik adalah konten yang sederhana, kontekstual, ramah perangkat sederhana, dan bisa digunakan baik di sekolah maupun di rumah. Dalam hal ini, pengembangan sumber belajar terbuka dan materi digital nasional menjadi sangat penting agar murid dari latar belakang apa pun dapat belajar dengan kualitas yang relatif setara. Kehadiran Platform Merdeka Mengajar (PMM) merupakan langkah positif pemerintah yang telah menyediakan repositori Bukti Karya dan Perangkat Ajar yang dapat diakses secara gratis.

Namun, membuka akses sumber belajar saja belumlah cukup. Tidak kalah penting adalah pendidikan literasi digital. Di era banjir informasi, kemampuan menggunakan teknologi harus diiringi kemampuan memilah informasi, menjaga etika digital, serta memahami keamanan data pribadi. Generasi Z dan Alpha adalah "penduduk asli digital" (digital natives). Banyak murid sudah akrab dengan gawai, tetapi belum tentu cakap memanfaatkannya untuk belajar secara produktif. Tanpa pendampingan dan penyaringan informasi, siswa sangat rentan terhadap misinformasi (hoaks), perundungan siber (cyberbullying), hingga pencurian data identitas.

Mereka perlu dibimbing agar teknologi tidak hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga sarana berpikir kritis, berkolaborasi, dan berkarya. Di sinilah guru memainkan peran sebagai fasilitator kebijaksanaan digital. Terlebih lagi dengan disrupsi Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence). UNESCO juga menyoroti bahwa kompetensi digital dan AI kini menjadi kemampuan esensial bagi anak, remaja, dan orang dewasa. Siswa harus diajarkan bahwa AI adalah asisten pembelajaran yang dapat membantu mereka memecahkan masalah komputasional, bukan alat untuk melakukan plagiarisme jalan pintas. 

Penutup

Keadilan akses pendidikan bukan sekadar persoalan membuka jaringan internet. Keadilan berarti memberikan kesempatan yang sama bagi anak di kota maupun di desa untuk tumbuh melalui pendidikan bermutu. Jika tidak diantisipasi, ketimpangan teknologi akan melahirkan Digital Divide (kesenjangan digital) yang berujung sistemik pada Knowledge Divide (kesenjangan pengetahuan).

Membumikan teknologi dalam pembelajaran berarti menempatkannya sebagai alat, bukan tujuan utama. Ukuran keberhasilan transformasi ini bukan dari jumlah unduhan aplikasi, melainkan seberapa jauh teknologi membantu siswa belajar lebih baik, guru mengajar lebih efektif, dan sekolah menjadi lebih inklusif. (Makruf S Marmah)


Selasa, 16 Juni 2026

Sebuah Memoar Inspirasi Haji: Panggilan yang Tak Terdengar di Telinga

Panggilan yang Tak Terdengar di Telinga

by Abu Firja

 

Angin kemarau berembus perlahan melewati jendela ruang kerjaku, menerbangkan debu-debu halus dari tumpukan buku kerja yang baru saja selesai kuseka. Namaku Abu Firja. Puluhan tahun aku mengabdi menjadi seorang pendidik, melukis asa di atas papan tulis, menanamkan aksara pada jiwa-jiwa muda yang dahaga. Namun, di balik seragam khaki dan kesederhanaan hidup sebagai seorang ‘Oemar Bakri’, ada satu ruang di sudut hatiku yang selalu bergemuruh hebat setiap kali musim haji tiba. Sebuah kerinduan yang membakar, rindu pada Baitullah.

Acap kali, setiap layar kaca menampakkan lautan manusia berbaju ihram yang bertawaf mengelilingi Ka'bah, ingatanku selalu terlempar jauh ke masa silam. Sebuah fragmen masa kecil yang menggoreskan luka, sekaligus menanamkan hikmah terdalam tentang makna sebuah ‘panggilan’. Dulu, di kampung kami yang damai, ayahku adalah seorang modin dengan panggilan akrab Mbah Kaum atau Mbah Umar. Mbah Umar, adalah seorang takmir masjid yang dihormati. Beliau bukan orang kaya, hanya petani bersahaja yang kekayaannya terletak pada sujud-sujud panjangnya di sepertiga malam. Suatu hari, ketenangan kampung kami diwarnai dengan kedatangan seorang musafir. Musafir itu seorang Pria yang mengaku bernama Haji Yahya berasal dari Kalimantan. Penampilannya sungguh meyakinkan; tutur katanya halus bertabur kutipan ayat, dahi yang menghitam tanda ahli sujud, dan sorban yang tak pernah lepas dari pundaknya.

Mbah Umar yang berhati polos, menyambutnya dengan tangan terbuka. Musafir itu diizinkan bermalam di serambi masjid. Tak disangka, ia menjelma menjadi pelita baru bagi jamaah. Selama seminggu penuh, suaranya yang merdu selalu membelah keheningan subuh lewat kultum yang menyejukkan. Ia juga mengajari jamaah qira'at dengan tartil. Semua orang terpesona, tak terkecuali Mbah Umar. Puncaknya, pada suatu pagi lewat mimbar subuh yang syahdu, dari balik corong pengeras suara, musafir itu mengumumkan sebuah janji yang menggetarkan dada. "Sebagai bentuk rasa syukur dan rasa persaudaraan," ucapnya lantang waktu itu, "Tahun besok, Insya Allah saya akan memberangkatkan Mbah Umar, saudara saya ini, untuk haji ke tanah suci. Gratis, sepenuhnya." Aku masih ingat betul, mata ayahku berkaca-kaca saat itu. Beliau sujud syukur di saf terdepan. Impian terbesarnya seolah jatuh dari langit. Warga kampung riuh memberikan ucapan selamat, seolah-olah kaki Mbah Umar sudah selangkah menginjak pasir di tanah suci Makkah.

Namun, fatamorgana tetaplah fatamorgana. Ia indah dipandang dari jauh, namun menghilang saat direngkuh. Setelah ikatan batin itu terjalin kuat, sang musafir mulai menjalankan muslihatnya. Ia bercerita sedang mencari lahan untuk investasi pesantren di kampung kami. Mbah Umar, dengan segala ketulusannya, pontang-panting mencarikan lahan yang pas. Ketemulah sebidang tanah milik warga, lengkap dengan salinan sertifikatnya. Saat fotokopi sertifikat itu diserahkan, wajah asli sang musafir mulai terkuak. Dengan setengah memaksa, ia meminta sertifikat yang asli dengan dalih untuk pengecekan notaris. Di sinilah, naluri Mbah Umar yang selalu dituntun oleh zikir, mulai merasa ada yang janggal.

Dibantu oleh Pak Kadus yang juga mulai curiga, mereka meminta kartu identitas KTP musafir itu, sesuatu yang sejak awal tak pernah ia tunjukkan karena tertutup oleh pesona kesalehannya. Dengan respon tergagap, musafir itu pun berkilah. "KTP saya tertinggal di laci dasbor mobil pribadi saya yang diparkir di terminal, Pak. Biar saya ambil sebentar." Tentu saja, Mbah Umar dan Pak Kadus tidak percaya begitu saja. Mereka membuntutinya dari kejauhan. Dan benar saja, tidak ada mobil pribadi yang terparkir di sana. Pria berjubah kepalsuan itu justru bergegas menaiki angkutan umum bus Ramayana yang sudah standby di situ, lalu lenyap ditelan debu jalanan, meninggalkan janji-janji surga yang berserakan. Andai saja sertifikat asli itu berpindah tangan, tamatlah riwayat nama baik Mbah Umar. Beliau yang berniat menolong, nyaris saja terperosok ke dalam jurang penipuan yang dibalut ayat suci. Alhamdulillah, Allah masih mendekap erat hamba-Nya yang tulus.

Peristiwa itu adalah guru pertamaku tentang hakikat ibadah haji. Bahwa haji bukanlah sekadar perjalanan wisata yang tiketnya bisa dibeli, apalagi diobral oleh lisan manusia yang penuh tipu daya. Ibadah haji adalah murni hak prerogatif Allah. Ia adalah undangan langsung dari Sang Khalik. Kini, puluhan tahun setelah kejadian itu, sebuah surat panggilan tiba-tiba datang mengetuk pintu rumah kami. Namaku masuk dalam manifes keberangkatan haji yang setahun lebih cepat dari estimasi. Semua terasa begitu cepat, terburu-buru, dan mendebarkan. Jiwaku terguncang di antara rasa tidak siap dan buncahan bahagia yang tak terbendung. Namun, di balik semua kepanikan itu, Allah membentangkan sajadah kemudahan yang begitu lembut dan halus. Selama perjalanan, segala urusan administrasi, kesehatan, hingga perbekalan, mengalir begitu lancar seolah ada tangan-tangan tak terlihat yang senantiasa menyingkirkan kerikil di jalanku.

Di tengah kemudahan itu, ada satu amanah besar yang diam-diam kupikul di lubuk hati yang paling dalam. Aku ingin membadalkan haji almarhum ayahku (Mbah Umar), lelaki bersahaja yang puluhan tahun silam pernah terbetik harapan di hatinya untuk menginjakkan kaki di tanah suci, namun berujung kekecewaan karena kepalsuan manusia. Aku ingin menyempurnakan rukun Islam beliau lewat pundakku. Namun, niat mulia itu sempat terbentur kenyataan. Biaya untuk jasa badal haji yang amanah, melalui biro resmi tidaklah murah. Aku sempat ragu, dari mana aku harus mencari dana tambahan di saat semua tabungan telah terkuras habis untuk pelunasan keberangkatanku sendiri?

Qadarullah, di situlah campur tangan Allah muncul dan nyata adanya, sebuah skenario langit yang membuat bulu kudukku meremang. Aku, yang di kalangan rekan sejawat dan keluarga akrab disapa Abu Firja, tiba-tiba menerima sebuah notifikasi pesan di ponselku saat mempersiapkan segala sesuatunya untuk keberangkatan. Notifikasi itu adalah pemberitahuan transferan masuk. Rupanya, honor keikutsertaanku sebagai fasilitator di kegiatan nasional yang sebetulnya secara administratif aku telah resmi membuat surat pernyataan pengunduran diri, karena ingin fokus untuk menunaikan ibadah haji ternyata cair. Dengan tangan gemetar, kubuka aplikasi perbankan di gawai. Dadaku berdegup kencang, air mataku langsung tumpah membasahi layar ponsel. Nominal rupiah yang masuk ke rekeningku tersebut betul-betul sangat presisi. Jumlahnya sama persis hingga ke angka ribuan terakhir, dengan biaya yang harus kubayarkan ke Biro Badal Haji untuk membadalkan haji ayahku. Tidak kurang, tidak lebih satu rupiah pun. Dan yang membuatku semakin bersujud syukur, transferan itu masuk tepat beberapa jam sebelum batas akhir pendaftaran badal haji itu ditutup.

Sungguh, skenario langit yang sangat tak terduga. Allah tidak hanya mengundangku, tapi Dia juga mengulurkan "tangan-Nya" secara langsung untuk membiayai badal haji ayahku. Melalui tetes peluhku sebagai fasilitator, Allah membayar lunas janji palsu musafir puluhan tahun silam dengan cara yang paling terhormat dan paling indah. Hal ini semakin menambah keyakinanku, bahwa “Ibadah haji itu sesungguhnya adalah undangan dari Allah SWT. Allah tidak memanggil orang-orang yang sekadar mampu, melainkan Allah akan memampukan dengan cara-Nya sendiri bagi setiap jiwa yang rindu dan terpanggil oleh-Nya." (Abu Firja)

Jumat, 12 Juni 2026

Menjelajah Surga Literasi di Langit Jakarta: Wisata Edukatif di Perpustakaan Nasional RI

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan No.11, Jakarta Pusat, tepat berada di seberang Monumen Nasional (Monas) bukan sekadar tempat menyimpan buku. Dengan gedung setinggi 24 lantai, institusi ini menjadi perpustakaan nasional tertinggi di dunia, menawarkan fasilitas modern yang memadukan pusat riset, ruang budaya, dan rekreasi yang terbuka untuk umum.

Berikut adalah fasilitas di tiap lantai yang bisa kita nikmati:

  • Lantai 1–3: Lobi Utama, area pameran, Ruang Auditorium, dan Layanan Keanggotaan.
  • Lantai 7: Layanan khusus untuk Anak, Lansia, dan Disabilitas, lengkap dengan area bermain edukatif.
  • Lantai 8: Layanan Audiovisual (tempat menonton film edukasi atau mendengarkan musik).
  • Lantai 9: Ruang koleksi Naskah Nusantara (termasuk naskah kuno yang diakui dunia).
  • Lantai 12 – 22: Area ruang baca koleksi buku langka, referensi, monograf, hingga koleksi mancanegara.
  • Lantai 24: Ruang budaya Nusantara dan executive lounge yang menyajikan pemandangan spektakuler ke arah Monumen Nasional (Monas).

 

Cara Menjadi Anggota Perpusnas

Mengunjungi dan membaca di tempat adalah fasilitas gratis. Namun, untuk meminjam buku, Anda wajib menjadi anggota:

  1. Daftar Online: Kunjungi situs resmi di Situs Keanggotaan Perpusnas, lalu pilih menu "Daftar Anggota".
  2. Isi Formulir: Lengkapi data pribadi dan NIK (Nomor Induk Kependudukan)
  3. Cetak Kartu: Setelah mendapatkan nomor anggota, Anda dapat mengunjungi Layanan Keanggotaan di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas (Jalan Medan Merdeka Selatan No.11, Jakarta) untuk mencetak kartu fisik. (Makruf S Marmah)

Selasa, 09 Juni 2026

Hari Belajar Guru: Bertumbuh Bersama, Menginspirasi Murid

Guru juga perlu waktu untuk belajar, berkembang, dan berkolaborasi. Melalui Hari Belajar Guru, pendidik memiliki ruang untuk meningkatkan kompetensi, berbagi praktik baik, melakukan refleksi, serta menghadirkan inovasi pembelajaran yang berdampak langsung pada murid.

Hari Belajar Guru dilaksanakan secara rutin 1 kali setiap minggu melalui berbagai komunitas belajar seperti KKG, MGMP, KKKS, MKKS, PKG, dan forum sejenis.

Info selengkapnya silahkan pelajari ( SE Hari Belajar Guru )

Mari terus belajar, berbagi, dan berinovasi demi menghadirkan layanan pendidikan yang lebih bermutu bagi seluruh peserta didik Indonesia. (Makruf S Marmah)


Kamis, 04 Juni 2026

Integritas di Balik Jemari: Refleksi Kedisiplinan ASN Guru lewat SIABA


“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Sebuah peribahasa klasik yang rasanya tak pernah usang dimakan zaman. Ungkapan ini menjadi pengingat abadi bahwa setiap gerak-gerik, ucapan, bahkan kedisiplinan seorang guru adalah kurikulum nyata yang langsung dibaca dan ditiru oleh para peserta didik. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Guru, tanggung jawab kita tidak hanya terbatas pada mentransfer ilmu di dalam kelas, melainkan juga menanamkan nilai-nilai karakter dasar, yang salah satu pilar utamanya adalah kejujuran.

Di era digital ini, kedisiplinan kita diuji lewat media yang sederhana namun sarat makna: aplikasi SIABA (Sistem Aplikasi Berbasis Android). Presensi masuk dan pulang secara online bukan sekadar ritual administratif untuk memenuhi syarat penggajian atau formalitas kinerja bulanan. Lebih dari itu, tombol klik yang kita tekan setiap pagi dan sore hari adalah lembar komitmen moral kita kepada bangsa, negara, dan anak-anak didik kita.

Menguji Kejujuran di Ruang Sunyi

Menggunakan aplikasi presensi online sering kali menghadapkan kita pada sunyinya ruang pilihan. Di saat tidak ada pengawasan langsung dari kepala sekolah atau pengawas, godaan untuk melakukan jalan pintas terkadang muncul. Mulai dari menitip absen kepada rekan sejawat, hingga menggunakan aplikasi manipulasi lokasi (fake GPS) demi mengejar status "tepat waktu" tanpa kehadiran fisik yang nyata.

Namun, mari kita renungkan sejenak: apakah esensi dari seorang pendidik jika kehadiran kita di ruang kelas digital dimulai dengan sebuah rekayasa?

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Ketika kita memanipulasi kehadiran, kita sedang mengajarkan ketidakjujuran secara diam-diam. Pendapatan yang kita bawa pulang untuk keluarga tercinta pun kehilangan nilai keberkahannya jika diperoleh dari waktu-waktu manipulatif yang sebenarnya tidak kita dedikasikan untuk mengabdi.

Menjadi ASN Guru yang Baik dan Jujur

Menjadi ASN Guru yang berintegritas berarti berani memilih jalan yang lurus, meskipun jalan itu menuntut kita untuk bangun lebih pagi, menembus kemacetan, atau menghadapi kendala jaringan dengan sabar.

Mari kita jadikan aplikasi SIABA sebagai saksi bisu dari dedikasi dan profesionalisme kita, bukan sebagai beban yang harus diakali. Ketika kita disiplin hadir dan pulang apa adanya, kita sedang membangun fondasi karakter bangsa yang kokoh. Kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa guru-guru Indonesia adalah pribadi yang dapat dipercaya, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Bapak dan Ibu Guru hebat, mari kita mulai hari ini dengan niat yang tulus. Tertiblah secara mandiri, jujurlah sejak dari dalam pikiran, dan jadilah teladan sejati. Sebab, pelajaran terbaik yang akan selalu diingat oleh murid-murid kita bukanlah apa yang kita tulis di papan tulis, melainkan bagaimana kita menjaga kejujuran di balik jemari kita sendiri. (Makruf S Marmah)

Selamat mengabdi, jagalah integritas, dan banggalah menjadi ASN Guru yang Jujur!


Jumat, 22 Mei 2026

Merajut Aksara, Mengubah Mimpi Menjadi Nyata

Pernahkah Anda merasa memiliki sejuta ide cemerlang di kepala, namun hanya berakhir sebagai draf yang mengendap di laptop? Ide yang dibiarkan tanpa eksekusi hanyalah angan-angan, tetapi ide yang dituliskan adalah benih peradaban. Menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan pikiran, menyuarakan isi hati, dan meninggalkan jejak keabadian. Seringkali, rintangan terbesar seorang penulis bukanlah ketiadaan bakat, melainkan hilangnya konsistensi dan hadirnya writer's block yang membelenggu.

Menulis bukan sekadar menunggu mood datang atau sekadar hobi di kala senggang, melainkan tentang membangun sebuah disiplin. Melalui program SarkatVaganza, kita ditantang untuk melahirkan karya utuh dengan konsisten menulis selama 30 hari. Ini adalah wadah tepat untuk mendobrak batasan dan mengubah ide di kepala menjadi buku nyata.

Anda tidak hanya diminta mengumpulkan tulisan, tetapi dipaksa masuk ke dalam ritme disiplin yang terstruktur. Dipandu dengan target harian, tantangan ini dirancang untuk mengeluarkan potensi terbaik Anda dari garis start hingga finish. Ketika naskah Anda selesai, ada rasa kepuasan batin yang luar biasa. Untuk itu, jangan biarkan ide cemerlang Anda menguap begitu saja. Mulailah merangkai kata hari ini, karena setiap penulis hebat bermula dari langkah kecil yang konsisten. (Makruf S Marmah)


Kamis, 21 Mei 2026

Resmi Diberangkatkan, Pemkab Magelang Lepas Ratusan Jamaah Haji Kloter Sapu Jagad


Pelepasan jamaah haji kloter 81 atau kloter "Sapu Jagat" menjadi salah satu kloter terakhir dalam rangkaian keberangkatan haji tahun 2026 Kabupaten Magelang. Rombongan calon haji dilepas secara resmi dari halaman setda Kabupaten Magelang menuju Asrama Haji Donohudan Embarkasi Solo pada hari Rabu, 20 Mei 2026. Keberangkatan ini sekaligus menutup rangkaian panjang fase pemberangkatan ibadah haji tahun ini.

Halaman Setda mendadak dipenuhi lautan manusia meskipun cuaca panas terik menyengat. Ratusan keluarga dan kerabat tampak mengantar dengan penuh haru, melambaikan tangan diiringi lantunan shalawat yang menggema di seluruh area komplek setda. Suasana khidmat semakin terasa saat sirine pengawalan mulai meraung, membuka jalan bagi deretan bus yang membawa jamaah menuju Asrama Haji Donohudan. 

Keberangkatan mereka menjadi penantian panjang yang akhirnya berbuah manis di penghujung musim pemberangkatan haji tahun ini. Para jamaah yang dilepas dari halaman setda ini siap menyusul kloter sebelumnya untuk bersiap mengikuti puncak ibadah haji di Arafah. Selamat jalan para tamu Allah, semoga senantiasa diberikan kelancaran dalam ibadah, kesehatan yang prima, dan kembali ke tanah air dengan predikat haji/hajjah mabrur & mabruroh. Aamiin. (Makruf S Marmah)

REFLEKSI PENDAMPINGAN

Refleksi Pendampingan: Membumikan Teknologi dalam Pembelajaran Demi Mewujudkan Keadilan Akses Pendidikan Oleh Makruf Sodikin (Dinas Pendidik...