Selasa, 16 Juni 2026

Sebuah Memoar Inspirasi Haji: Panggilan yang Tak Terdengar di Telinga

Panggilan yang Tak Terdengar di Telinga

by Abu Firja

 

Angin kemarau berembus perlahan melewati jendela ruang kerjaku, menerbangkan debu-debu halus dari tumpukan buku kerja yang baru saja selesai kuseka. Namaku Abu Firja. Puluhan tahun aku mengabdi menjadi seorang pendidik, melukis asa di atas papan tulis, menanamkan aksara pada jiwa-jiwa muda yang dahaga. Namun, di balik seragam khaki dan kesederhanaan hidup sebagai seorang ‘Oemar Bakri’, ada satu ruang di sudut hatiku yang selalu bergemuruh hebat setiap kali musim haji tiba. Sebuah kerinduan yang membakar, rindu pada Baitullah.

Acap kali, setiap layar kaca menampakkan lautan manusia berbaju ihram yang bertawaf mengelilingi Ka'bah, ingatanku selalu terlempar jauh ke masa silam. Sebuah fragmen masa kecil yang menggoreskan luka, sekaligus menanamkan hikmah terdalam tentang makna sebuah ‘panggilan’. Dulu, di kampung kami yang damai, ayahku adalah seorang modin dengan panggilan akrab Mbah Kaum atau Mbah Umar. Mbah Umar, adalah seorang takmir masjid yang dihormati. Beliau bukan orang kaya, hanya petani bersahaja yang kekayaannya terletak pada sujud-sujud panjangnya di sepertiga malam. Suatu hari, ketenangan kampung kami diwarnai dengan kedatangan seorang musafir. Musafir itu seorang Pria yang mengaku bernama Haji Yahya berasal dari Kalimantan. Penampilannya sungguh meyakinkan; tutur katanya halus bertabur kutipan ayat, dahi yang menghitam tanda ahli sujud, dan sorban yang tak pernah lepas dari pundaknya.

Ayahku yang berhati polos, menyambutnya dengan tangan terbuka. Musafir itu diizinkan bermalam di bilik masjid. Tak disangka, ia menjelma menjadi pelita baru bagi jamaah. Selama seminggu penuh, suaranya yang merdu membelah keheningan subuh lewat kultum yang menyejukkan. Ia mengajari anak-anak qira'at dengan tartil dan memukau. Semua orang terpesona, tak terkecuali ayahku. Puncaknya, pada suatu pagi di mimbar subuh yang syahdu, dari balik corong pengeras suara, musafir itu mengumumkan sebuah janji yang menggetarkan dada. "Sebagai bentuk rasa syukur dan rasa persaudaraan," ucapnya lantang waktu itu, "Tahun besok, Insya Allah saya akan memberangkatkan Mbah Umar, saudara saya ini, ke tanah suci. Gratis, sepenuhnya." Aku masih ingat betul, mata ayahku berkaca-kaca. Beliau sujud syukur di saf terdepan. Impian terbesarnya seolah jatuh dari langit. Warga kampung riuh memberikan selamat, seolah-olah kaki ayahku sudah selangkah menginjak pasir di tanah suci Makkah.

Namun, fatamorgana tetaplah fatamorgana. Ia indah dipandang dari jauh, namun menghilang saat direngkuh. Setelah ikatan batin itu terjalin kuat, sang musafir mulai menjalankan muslihatnya. Ia bercerita sedang mencari lahan untuk investasi pesantren di kampung kami. Ayahku, dengan segala ketulusannya, pontang-panting mencarikan lahan yang pas. Ketemulah sebidang tanah milik warga, lengkap dengan salinan sertifikatnya. Saat fotokopi itu diserahkan, wajah asli sang musafir mulai terkuak. Dengan setengah memaksa, ia meminta sertifikat yang asli dengan dalih untuk pengecekan notaris. Di sinilah, naluri ayahku yang selalu dituntun oleh zikir, mulai merasa ada yang janggal.

Dibantu oleh Pak Kadus yang juga mulai curiga, mereka meminta kartu identitas atau KTP musafir itu, sesuatu yang sejak awal tak pernah ia tunjukkan karena tertutup oleh pesona kesalehannya. Tergagap, musafir itu berkilah. "KTP saya tertinggal di laci dasbor mobil pribadi saya yang diparkir di terminal, Pak. Biar saya ambil sebentar." Tentu saja, Ayah dan Pak Kadus tidak sebodoh itu. Mereka membuntutinya dari kejauhan. Dan benar saja, tidak ada mobil pribadi yang menunggunya. Pria berjubah kepalsuan itu justru berlari menaiki angkutan umum bus Ramayana, lalu lenyap ditelan debu jalanan, meninggalkan janji-janji surga yang berserakan. Andai saja sertifikat asli itu berpindah tangan, tamatlah riwayat nama baik Mbah Umar. Beliau yang berniat menolong, nyaris saja terperosok ke dalam jurang penipuan yang dibalut ayat suci. Alhamdulillah, Allah masih mendekap erat hamba-Nya yang tulus. 

Peristiwa itu adalah guru pertamaku tentang hakikat ibadah haji. Bahwa haji bukanlah sekadar perjalanan wisata yang tiketnya bisa dibeli, apalagi diobral oleh lisan manusia yang penuh tipu daya. Ibadah haji adalah murni hak prerogatif Allah. Ia adalah undangan langsung dari Sang Khalik. Kini, puluhan tahun setelah kejadian itu, sebuah surat panggilan tiba-tiba datang mengetuk rumah kami. Namaku masuk dalam manifes keberangkatan haji yang setahun lebih cepat dari waktu perkiraan. Semua terasa begitu cepat, terburu-buru, dan mendebarkan. Jiwaku terguncang di antara rasa tidak siap dan buncahan bahagia yang tak terbendung. Namun, di balik semua kepanikan itu, Allah membentangkan sajadah kemudahan yang begitu lembut dan halus. Selama perjalanan, segala urusan administrasi, kesehatan, hingga perbekalan, mengalir begitu lancar seolah ada tangan tak terlihat yang senantiasa menyingkirkan kerikil di jalanku.

Di tengah kemudahan itu, ada satu amanah besar yang diam-diam kupikul di lubuk hati yang paling dalam. Aku ingin membadalkan haji untuk almarhum ayahku, lelaki bersahaja yang puluhan tahun silam pernah terbetik harapan di hatinya untuk menginjakkan kaki di tanah suci, namun berujung kekecewaan karena kepalsuan manusia. Aku ingin menyempurnakan rukun Islam beliau lewat pundakku. Namun, niat mulia itu sempat terbentur kenyataan. Biaya untuk jasa badal haji yang amanah melalui biro resmi tidaklah murah. Aku sempat ragu, dari mana aku harus mencari dana tambahan di saat semua tabungan telah terkuras habis untuk pelunasan keberangkatanku sendiri?

Di situlah keajaiban Allah muncul, sebuah skenario langit yang membuat bulu kudukku meremang. Aku, yang di kalangan rekan sejawat dan keluarga akrab disapa Abu Firja, tiba-tiba menerima sebuah notifikasi pesan di ponselku saat persiapan keberangkatan. Notifikasi itu adalah pemberitahuan transferan masuk. Rupanya, honor kerjaku sebagai fasilitator kegiatan nasional yang secara administratif aku telah resmi membuat surat pernyataan pengunduran diri karena akan fokus menunaikan ibadah haji akhirnya cair. Dengan tangan gemetar, kubuka aplikasi perbankan di gawai. Dadaku berdegup kencang, air mataku langsung tumpah membasahi layar ponsel. Nominal rupiah yang masuk ke rekeningku betul-betul pas presisi. Jumlahnya sama persis hingga ke angka ribuan terakhir, dengan biaya yang harus kubayarkan ke Biro Badal Haji untuk membadalkan ayahku. Tidak kurang, tidak lebih satu rupiah pun. Dan yang membuatku semakin bersujud syukur, transferan itu masuk tepat beberapa jam sebelum batas akhir pendaftaran badal haji ditutup.

Sungguh, skenario langit yang sangat tak terduga. Allah tidak hanya mengundangku, tapi Dia juga mengulurkan "tangan-Nya" secara langsung untuk membiayai badal haji ayahku. Melalui tetes peluhku sebagai fasilitator, Allah membayar lunas janji palsu musafir puluhan tahun silam dengan cara yang paling terhormat dan paling indah. Hal ini semakin menambah keyakinanku, bahwa “Ibadah haji itu sesungguhnya adalah undangan dari Allah SWT. Percayalah, Allah tidak memanggil orang-orang yang sekadar mampu, melainkan Allah akan memampukan dengan cara-Nya sendiri bagi setiap jiwa yang rindu dan terpanggil oleh-Nya." (Abu Firja)

Jumat, 12 Juni 2026

Menjelajah Surga Literasi di Langit Jakarta: Wisata Edukatif di Perpustakaan Nasional RI

Perpustakaan Nasional (Perpusnas) yang terletak di Jl. Medan Merdeka Selatan No.11, Jakarta Pusat, tepat berada di seberang Monumen Nasional (Monas) bukan sekadar tempat menyimpan buku. Dengan gedung setinggi 24 lantai, institusi ini menjadi perpustakaan nasional tertinggi di dunia, menawarkan fasilitas modern yang memadukan pusat riset, ruang budaya, dan rekreasi yang terbuka untuk umum.

Berikut adalah fasilitas di tiap lantai yang bisa kita nikmati:

  • Lantai 1–3: Lobi Utama, area pameran, Ruang Auditorium, dan Layanan Keanggotaan.
  • Lantai 7: Layanan khusus untuk Anak, Lansia, dan Disabilitas, lengkap dengan area bermain edukatif.
  • Lantai 8: Layanan Audiovisual (tempat menonton film edukasi atau mendengarkan musik).
  • Lantai 9: Ruang koleksi Naskah Nusantara (termasuk naskah kuno yang diakui dunia).
  • Lantai 12 – 22: Area ruang baca koleksi buku langka, referensi, monograf, hingga koleksi mancanegara.
  • Lantai 24: Ruang budaya Nusantara dan executive lounge yang menyajikan pemandangan spektakuler ke arah Monumen Nasional (Monas).

 

Cara Menjadi Anggota Perpusnas

Mengunjungi dan membaca di tempat adalah fasilitas gratis. Namun, untuk meminjam buku, Anda wajib menjadi anggota:

  1. Daftar Online: Kunjungi situs resmi di Situs Keanggotaan Perpusnas, lalu pilih menu "Daftar Anggota".
  2. Isi Formulir: Lengkapi data pribadi dan NIK (Nomor Induk Kependudukan)
  3. Cetak Kartu: Setelah mendapatkan nomor anggota, Anda dapat mengunjungi Layanan Keanggotaan di Gedung Fasilitas Layanan Perpusnas (Jalan Medan Merdeka Selatan No.11, Jakarta) untuk mencetak kartu fisik. (Makruf S Marmah)

Selasa, 09 Juni 2026

Hari Belajar Guru: Bertumbuh Bersama, Menginspirasi Murid

Guru juga perlu waktu untuk belajar, berkembang, dan berkolaborasi. Melalui Hari Belajar Guru, pendidik memiliki ruang untuk meningkatkan kompetensi, berbagi praktik baik, melakukan refleksi, serta menghadirkan inovasi pembelajaran yang berdampak langsung pada murid.

Hari Belajar Guru dilaksanakan secara rutin 1 kali setiap minggu melalui berbagai komunitas belajar seperti KKG, MGMP, KKKS, MKKS, PKG, dan forum sejenis.

Info selengkapnya silahkan pelajari ( SE Hari Belajar Guru )

Mari terus belajar, berbagi, dan berinovasi demi menghadirkan layanan pendidikan yang lebih bermutu bagi seluruh peserta didik Indonesia. (Makruf S Marmah)


Kamis, 04 Juni 2026

Integritas di Balik Jemari: Refleksi Kedisiplinan ASN Guru lewat SIABA


“Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.”

Sebuah peribahasa klasik yang rasanya tak pernah usang dimakan zaman. Ungkapan ini menjadi pengingat abadi bahwa setiap gerak-gerik, ucapan, bahkan kedisiplinan seorang guru adalah kurikulum nyata yang langsung dibaca dan ditiru oleh para peserta didik. Sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) Guru, tanggung jawab kita tidak hanya terbatas pada mentransfer ilmu di dalam kelas, melainkan juga menanamkan nilai-nilai karakter dasar, yang salah satu pilar utamanya adalah kejujuran.

Di era digital ini, kedisiplinan kita diuji lewat media yang sederhana namun sarat makna: aplikasi SIABA (Sistem Aplikasi Berbasis Android). Presensi masuk dan pulang secara online bukan sekadar ritual administratif untuk memenuhi syarat penggajian atau formalitas kinerja bulanan. Lebih dari itu, tombol klik yang kita tekan setiap pagi dan sore hari adalah lembar komitmen moral kita kepada bangsa, negara, dan anak-anak didik kita.

Menguji Kejujuran di Ruang Sunyi

Menggunakan aplikasi presensi online sering kali menghadapkan kita pada sunyinya ruang pilihan. Di saat tidak ada pengawasan langsung dari kepala sekolah atau pengawas, godaan untuk melakukan jalan pintas terkadang muncul. Mulai dari menitip absen kepada rekan sejawat, hingga menggunakan aplikasi manipulasi lokasi (fake GPS) demi mengejar status "tepat waktu" tanpa kehadiran fisik yang nyata.

Namun, mari kita renungkan sejenak: apakah esensi dari seorang pendidik jika kehadiran kita di ruang kelas digital dimulai dengan sebuah rekayasa?

Kejujuran adalah mata uang yang berlaku di mana saja. Ketika kita memanipulasi kehadiran, kita sedang mengajarkan ketidakjujuran secara diam-diam. Pendapatan yang kita bawa pulang untuk keluarga tercinta pun kehilangan nilai keberkahannya jika diperoleh dari waktu-waktu manipulatif yang sebenarnya tidak kita dedikasikan untuk mengabdi.

Menjadi ASN Guru yang Baik dan Jujur

Menjadi ASN Guru yang berintegritas berarti berani memilih jalan yang lurus, meskipun jalan itu menuntut kita untuk bangun lebih pagi, menembus kemacetan, atau menghadapi kendala jaringan dengan sabar.

Mari kita jadikan aplikasi SIABA sebagai saksi bisu dari dedikasi dan profesionalisme kita, bukan sebagai beban yang harus diakali. Ketika kita disiplin hadir dan pulang apa adanya, kita sedang membangun fondasi karakter bangsa yang kokoh. Kita sedang menunjukkan kepada dunia bahwa guru-guru Indonesia adalah pribadi yang dapat dipercaya, baik di hadapan manusia maupun di hadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Bapak dan Ibu Guru hebat, mari kita mulai hari ini dengan niat yang tulus. Tertiblah secara mandiri, jujurlah sejak dari dalam pikiran, dan jadilah teladan sejati. Sebab, pelajaran terbaik yang akan selalu diingat oleh murid-murid kita bukanlah apa yang kita tulis di papan tulis, melainkan bagaimana kita menjaga kejujuran di balik jemari kita sendiri. (Makruf S Marmah)

Selamat mengabdi, jagalah integritas, dan banggalah menjadi ASN Guru yang Jujur!


Jumat, 22 Mei 2026

Merajut Aksara, Mengubah Mimpi Menjadi Nyata

Pernahkah Anda merasa memiliki sejuta ide cemerlang di kepala, namun hanya berakhir sebagai draf yang mengendap di laptop? Ide yang dibiarkan tanpa eksekusi hanyalah angan-angan, tetapi ide yang dituliskan adalah benih peradaban. Menulis adalah cara terbaik untuk mengabadikan pikiran, menyuarakan isi hati, dan meninggalkan jejak keabadian. Seringkali, rintangan terbesar seorang penulis bukanlah ketiadaan bakat, melainkan hilangnya konsistensi dan hadirnya writer's block yang membelenggu.

Menulis bukan sekadar menunggu mood datang atau sekadar hobi di kala senggang, melainkan tentang membangun sebuah disiplin. Melalui program SarkatVaganza, kita ditantang untuk melahirkan karya utuh dengan konsisten menulis selama 30 hari. Ini adalah wadah tepat untuk mendobrak batasan dan mengubah ide di kepala menjadi buku nyata.

Anda tidak hanya diminta mengumpulkan tulisan, tetapi dipaksa masuk ke dalam ritme disiplin yang terstruktur. Dipandu dengan target harian, tantangan ini dirancang untuk mengeluarkan potensi terbaik Anda dari garis start hingga finish. Ketika naskah Anda selesai, ada rasa kepuasan batin yang luar biasa. Untuk itu, jangan biarkan ide cemerlang Anda menguap begitu saja. Mulailah merangkai kata hari ini, karena setiap penulis hebat bermula dari langkah kecil yang konsisten. (Makruf S Marmah)


Kamis, 21 Mei 2026

Resmi Diberangkatkan, Pemkab Magelang Lepas Ratusan Jamaah Haji Kloter Sapu Jagad


Pelepasan jamaah haji kloter 81 atau kloter "Sapu Jagat" menjadi salah satu kloter terakhir dalam rangkaian keberangkatan haji tahun 2026 Kabupaten Magelang. Rombongan calon haji dilepas secara resmi dari halaman setda Kabupaten Magelang menuju Asrama Haji Donohudan Embarkasi Solo pada hari Rabu, 20 Mei 2026. Keberangkatan ini sekaligus menutup rangkaian panjang fase pemberangkatan ibadah haji tahun ini.

Halaman Setda mendadak dipenuhi lautan manusia meskipun cuaca panas terik menyengat. Ratusan keluarga dan kerabat tampak mengantar dengan penuh haru, melambaikan tangan diiringi lantunan shalawat yang menggema di seluruh area komplek setda. Suasana khidmat semakin terasa saat sirine pengawalan mulai meraung, membuka jalan bagi deretan bus yang membawa jamaah menuju Asrama Haji Donohudan. 

Keberangkatan mereka menjadi penantian panjang yang akhirnya berbuah manis di penghujung musim pemberangkatan haji tahun ini. Para jamaah yang dilepas dari halaman setda ini siap menyusul kloter sebelumnya untuk bersiap mengikuti puncak ibadah haji di Arafah. Selamat jalan para tamu Allah, semoga senantiasa diberikan kelancaran dalam ibadah, kesehatan yang prima, dan kembali ke tanah air dengan predikat haji/hajjah mabrur & mabruroh. Aamiin. (Makruf S Marmah)

Senin, 18 Mei 2026

Gema Sholawat dan Syiar Kebersamaan: Pesona Pengajian Selapanan Muslimat NU Ranting Borobudur di Masjid Ar-Rohman

 

Ratusan jamaah memadati area parkir Masjid Ar-Rohman Janan pada Jumat, 15 Mei 2026, dalam acara Pengajian Selapanan Jumat Pahing  Muslimat NU Ranting Borobudur. Kegiatan yang dihadiri oleh 20 anak ranting di Desa Borobudur tersebut berlangsung dari pukul 13.00 hingga 16.30 WIB.

Kegiatan ini menjadi bukti nyata kokohnya ukhuwah islamiyah di jantung kawasan wisata religi dan budaya serta menjadi magnet kebersamaan, yang dihadiri oleh jajaran tokoh perempuan dan masyarakat setempat. Tampak hadir dalam acara tersebut Ibu Camat Borobudur selaku Ketua Ranting Muslimat NU Borobudur, Ibu Kepala Desa Borobudur, Kepala Dusun Janan, serta Ketua RT setempat. Kehadiran mereka menegaskan dukungan penuh pemerintah dan tokoh masyarakat terhadap syiar keagamaan di akar rumput.

Suasana semakin meriah dengan alunan seni bernuansa islami. Lantunan suara merdu dari grup Paduan Suara Muslimat NU Anak Ranting Dusun Janan dan tabuhan rancak grup rebana dari Anak Ranting Dusun Kaliabon sukses membius jamaah. Harmoni suara dan tabuhan rebana mengiringi langkah para jamaah yang hadir dengan semangat dan penuh sukacita.

Makruf Sodikin, selaku Ketua Takmir Masjid Ar-Rohman sekaligus sebagai tuan rumah dalam sambutannya menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas ditunjuknya Masjid Ar-Rohman sebagai tuan rumah Selapan Jumat Pahing Muslimat NU Ranting Borobudur sekaligus sebagai salah satu wujud guna memakmurkan masjid. Lebih lanjut, beliau juga menyampaikan informasi dan mengajak kepada seluruh jamaah untuk berkenan hadir mengikuti kajian Islam yang diadakan rutin setiap malam Selasa di Masjid Ar-Rohman mulai pukul 19.30 sampai 20.30 WIB.

Pada acara inti, jamaah mengikuti tausiyah yang disampaikan oleh Gus Syarif Hidayatullah dari Sleman dengan penuh khusyuk. Melalui penyampaian yang humoris dan menyentuh hati, beliau mengajak para jamaah untuk terus meneladani nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari serta memperkuat benteng moral keluarga melalui amaliyah Nahdlatul Ulama. Pengajian selapanan ini tidak hanya sekadar menjadi ajang tholabul 'ilmi (mencari ilmu), tetapi juga menjadi ruang silaturahmi yang mempererat tali persaudaraan antarwarga lintas dusun di wilayah Borobudur. (Makruf S Marmah)

Sebuah Memoar Inspirasi Haji: Panggilan yang Tak Terdengar di Telinga

Panggilan yang Tak Terdengar di Telinga by Abu Firja   Angin kemarau berembus perlahan melewati jendela ruang kerjaku, menerbangkan debu-deb...