Panggilan yang Tak Terdengar di Telinga
by Abu Firja
Angin kemarau berembus perlahan melewati jendela ruang kerjaku, menerbangkan debu-debu halus dari tumpukan buku kerja yang baru saja selesai kuseka. Namaku Abu Firja. Puluhan tahun aku mengabdi menjadi seorang pendidik, melukis asa di atas papan tulis, menanamkan aksara pada jiwa-jiwa muda yang dahaga. Namun, di balik seragam khaki dan kesederhanaan hidup sebagai seorang ‘Oemar Bakri’, ada satu ruang di sudut hatiku yang selalu bergemuruh hebat setiap kali musim haji tiba. Sebuah kerinduan yang membakar, rindu pada Baitullah.
Acap kali, setiap layar kaca menampakkan lautan manusia berbaju ihram yang bertawaf mengelilingi Ka'bah, ingatanku selalu terlempar jauh ke masa silam. Sebuah fragmen masa kecil yang menggoreskan luka, sekaligus menanamkan hikmah terdalam tentang makna sebuah ‘panggilan’. Dulu, di kampung kami yang damai, ayahku adalah seorang modin dengan panggilan akrab Mbah Kaum atau Mbah Umar. Mbah Umar, adalah seorang takmir masjid yang dihormati. Beliau bukan orang kaya, hanya petani bersahaja yang kekayaannya terletak pada sujud-sujud panjangnya di sepertiga malam. Suatu hari, ketenangan kampung kami diwarnai dengan kedatangan seorang musafir. Musafir itu seorang Pria yang mengaku bernama Haji Yahya berasal dari Kalimantan. Penampilannya sungguh meyakinkan; tutur katanya halus bertabur kutipan ayat, dahi yang menghitam tanda ahli sujud, dan sorban yang tak pernah lepas dari pundaknya.
Ayahku yang berhati polos, menyambutnya dengan tangan terbuka. Musafir itu diizinkan bermalam di bilik masjid. Tak disangka, ia menjelma menjadi pelita baru bagi jamaah. Selama seminggu penuh, suaranya yang merdu membelah keheningan subuh lewat kultum yang menyejukkan. Ia mengajari anak-anak qira'at dengan tartil dan memukau. Semua orang terpesona, tak terkecuali ayahku. Puncaknya, pada suatu pagi di mimbar subuh yang syahdu, dari balik corong pengeras suara, musafir itu mengumumkan sebuah janji yang menggetarkan dada. "Sebagai bentuk rasa syukur dan rasa persaudaraan," ucapnya lantang waktu itu, "Tahun besok, Insya Allah saya akan memberangkatkan Mbah Umar, saudara saya ini, ke tanah suci. Gratis, sepenuhnya." Aku masih ingat betul, mata ayahku berkaca-kaca. Beliau sujud syukur di saf terdepan. Impian terbesarnya seolah jatuh dari langit. Warga kampung riuh memberikan selamat, seolah-olah kaki ayahku sudah selangkah menginjak pasir di tanah suci Makkah.
Namun, fatamorgana tetaplah fatamorgana. Ia indah dipandang dari jauh, namun menghilang saat direngkuh. Setelah ikatan batin itu terjalin kuat, sang musafir mulai menjalankan muslihatnya. Ia bercerita sedang mencari lahan untuk investasi pesantren di kampung kami. Ayahku, dengan segala ketulusannya, pontang-panting mencarikan lahan yang pas. Ketemulah sebidang tanah milik warga, lengkap dengan salinan sertifikatnya. Saat fotokopi itu diserahkan, wajah asli sang musafir mulai terkuak. Dengan setengah memaksa, ia meminta sertifikat yang asli dengan dalih untuk pengecekan notaris. Di sinilah, naluri ayahku yang selalu dituntun oleh zikir, mulai merasa ada yang janggal.
Dibantu oleh Pak Kadus yang juga mulai curiga, mereka meminta kartu identitas atau KTP musafir itu, sesuatu yang sejak awal tak pernah ia tunjukkan karena tertutup oleh pesona kesalehannya. Tergagap, musafir itu berkilah. "KTP saya tertinggal di laci dasbor mobil pribadi saya yang diparkir di terminal, Pak. Biar saya ambil sebentar." Tentu saja, Ayah dan Pak Kadus tidak sebodoh itu. Mereka membuntutinya dari kejauhan. Dan benar saja, tidak ada mobil pribadi yang menunggunya. Pria berjubah kepalsuan itu justru berlari menaiki angkutan umum bus Ramayana, lalu lenyap ditelan debu jalanan, meninggalkan janji-janji surga yang berserakan. Andai saja sertifikat asli itu berpindah tangan, tamatlah riwayat nama baik Mbah Umar. Beliau yang berniat menolong, nyaris saja terperosok ke dalam jurang penipuan yang dibalut ayat suci. Alhamdulillah, Allah masih mendekap erat hamba-Nya yang tulus.
Peristiwa itu adalah guru pertamaku tentang hakikat ibadah haji. Bahwa haji bukanlah sekadar perjalanan wisata yang tiketnya bisa dibeli, apalagi diobral oleh lisan manusia yang penuh tipu daya. Ibadah haji adalah murni hak prerogatif Allah. Ia adalah undangan langsung dari Sang Khalik. Kini, puluhan tahun setelah kejadian itu, sebuah surat panggilan tiba-tiba datang mengetuk rumah kami. Namaku masuk dalam manifes keberangkatan haji yang setahun lebih cepat dari waktu perkiraan. Semua terasa begitu cepat, terburu-buru, dan mendebarkan. Jiwaku terguncang di antara rasa tidak siap dan buncahan bahagia yang tak terbendung. Namun, di balik semua kepanikan itu, Allah membentangkan sajadah kemudahan yang begitu lembut dan halus. Selama perjalanan, segala urusan administrasi, kesehatan, hingga perbekalan, mengalir begitu lancar seolah ada tangan tak terlihat yang senantiasa menyingkirkan kerikil di jalanku.
Di tengah kemudahan itu, ada satu amanah besar yang diam-diam kupikul di lubuk hati yang paling dalam. Aku ingin membadalkan haji untuk almarhum ayahku, lelaki bersahaja yang puluhan tahun silam pernah terbetik harapan di hatinya untuk menginjakkan kaki di tanah suci, namun berujung kekecewaan karena kepalsuan manusia. Aku ingin menyempurnakan rukun Islam beliau lewat pundakku. Namun, niat mulia itu sempat terbentur kenyataan. Biaya untuk jasa badal haji yang amanah melalui biro resmi tidaklah murah. Aku sempat ragu, dari mana aku harus mencari dana tambahan di saat semua tabungan telah terkuras habis untuk pelunasan keberangkatanku sendiri?
Di situlah keajaiban Allah muncul, sebuah skenario langit yang membuat bulu kudukku meremang. Aku, yang di kalangan rekan sejawat dan keluarga akrab disapa Abu Firja, tiba-tiba menerima sebuah notifikasi pesan di ponselku saat persiapan keberangkatan. Notifikasi itu adalah pemberitahuan transferan masuk. Rupanya, honor kerjaku sebagai fasilitator kegiatan nasional yang secara administratif aku telah resmi membuat surat pernyataan pengunduran diri karena akan fokus menunaikan ibadah haji akhirnya cair. Dengan tangan gemetar, kubuka aplikasi perbankan di gawai. Dadaku berdegup kencang, air mataku langsung tumpah membasahi layar ponsel. Nominal rupiah yang masuk ke rekeningku betul-betul pas presisi. Jumlahnya sama persis hingga ke angka ribuan terakhir, dengan biaya yang harus kubayarkan ke Biro Badal Haji untuk membadalkan ayahku. Tidak kurang, tidak lebih satu rupiah pun. Dan yang membuatku semakin bersujud syukur, transferan itu masuk tepat beberapa jam sebelum batas akhir pendaftaran badal haji ditutup.
Sungguh, skenario langit yang sangat tak terduga. Allah tidak hanya mengundangku, tapi Dia juga mengulurkan "tangan-Nya" secara langsung untuk membiayai badal haji ayahku. Melalui tetes peluhku sebagai fasilitator, Allah membayar lunas janji palsu musafir puluhan tahun silam dengan cara yang paling terhormat dan paling indah. Hal ini semakin menambah keyakinanku, bahwa “Ibadah haji itu sesungguhnya adalah undangan dari Allah SWT. Percayalah, Allah tidak memanggil orang-orang yang sekadar mampu, melainkan Allah akan memampukan dengan cara-Nya sendiri bagi setiap jiwa yang rindu dan terpanggil oleh-Nya." (Abu Firja)
.png)





