Selasa, 24 Maret 2026

Menenun Kembali Benang yang Terurai: Makna Mendalam di Balik Tradisi Ujung dan Maaf di Hari Fitri

Gema takbir yang berkumandang di hari raya Idul Fitri bukan sekadar penanda berakhirnya masa lapar dan dahaga, melainkan sebuah undangan terbuka untuk pulang. Bukan hanya pulang ke kampung halaman secara fisik, tetapi pulang ke fitrah kemanusiaan kita yang paling mendasar: yakni saling mengasihi dan memaafkan.

Di tengah masyarakat kita, tradisi "badan" atau "ujung" (silaturahmi dari rumah ke rumah) telah menjadi napas perayaan Idul Fitri yang tak tergantikan. Di balik keriuhan dan sajian khas lebaran, tersimpan filosofi mendalam tentang cara kita merawat hubungan antarmanusia (hablum minannas)

Lebaran: Jembatan di Atas Jurang Ego
Seringkali, kesibukan dan perbedaan pandangan menciptakan jarak yang tak kasat mata di antara keluarga maupun rekan sejawat. Tradisi silaturahmi saat Idul Fitri hadir sebagai momen "gencatan senjata" atas segala ego.
Meminta maaf dan memberi maaf bukan sekadar ritual lisan. Ia adalah proses detoksifikasi hati. Mengucapkan "Mohon Maaf Lahir dan Batin" berarti kita telah sepakat untuk meluruhkan beban masa lalu dan menuliskan catatan baru di atas kertas yang bersih. Inilah kemenangan yang sesungguhnya, saat kita berhasil mengalahkan rasa gengsi untuk mengakui kesalahan.

Angpau dan THR: Simbol Kegembiraan bagi Sang Penerus
Satu hal yang selalu mengiringi langkah kaki saat silaturahmi adalah keceriaan anak-anak. Tradisi memberikan angpau atau THR (Tunjangan Hari Raya) kepada anak-anak saat mereka datang "ujung" bukanlah sekadar soal nominal uang. Ada hikmah mendalam yang tersirat dalam amplop-amplop kecil tersebut:
Pertama: Apresiasi bagi anak-anak yang telah belajar berpuasa. Angpau adalah bentuk penghargaan atas perjuangan dan kesabaran mereka.
Kedua: Pelajaran berbagi, tradisi ini mengajarkan kepada anak-anak bahwa hari raya adalah tentang kebahagiaan yang dibagi, bukan dinikmati sendiri.
Ketiga: Perekat kedekatan, senyum tulus seorang anak saat menerima "hadiah" kecil menciptakan memori kolektif yang sangat manis tentang hangatnya ikatan keluarga dan lingkungan sosial.

Idul Fitri adalah momentum emas untuk menyambung kembali benang-benang persaudaraan yang mungkin sempat terurai atau bahkan kusut. Dengan saling memaafkan dan berbagi keceriaan, kita sedang membangun fondasi masyarakat yang lebih harmonis dan suportif. Mari kita jadikan setiap langkah kaki saat "ujung" sebagai langkah menuju pribadi yang lebih luas hatinya dan lebih dermawan jiwanya. Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim. (Makruf S Marmah)

Senin, 09 Maret 2026

Menyemai Masa Depan Cerah: SDN Sidowangi Komitmen Tingkatkan Mutu Pendidikan

KAJORAN. Di tengah semangat kolaborasi yang membara, Senin (9/3) di SDN Sidowangi telah dilaksanakan Observasi Praktik Kinerja Kepala Sekolah. Dengan pendampingan Pengawas Sekolah, agenda tersebut bukan sekadar rutinitas administratif, melainkan kewajiban untuk mewujudkan sekolah impian yang lebih baik bagi masyarakat. Pada kesempatan tersebut, Kepala SDN Sidowangi, Yuni Kurniawati, S.Pd. mempresentasikan capaian dan rencana satu tahun ke depan di hadapan semua guru dan staf dalam suasana yang penuh harapan dan keakraban.

Mengacu pada Raport Pendidikan terbaru, presentasi Kepala Sekolah menjadi momen penting untuk melakukan refleksi yang jujur dan membangun. Beliau menyampaikan pencapaian tahun lalu dan sekaligus mengakui tantangan utama yang harus dihadapi yaitu terkait peningkatan literasi dan numerasi yang skornya masih rendah. Pada kesempatan tersebut Kepala Sekolah mengajak semua guru untuk terus semangat dan merancang program ke depan dengan lebih matang, utamanya dalam hal peningkatan kompetensi guru, termasuk pemanfaatan IFP (Interactive Flat Panel) agar dapat tercipta suasana belajar yang lebih bermakna (meaningful), berkesadaran (mindful) dan menggembirakan (joyful)

Usai sesi presentasi, dilanjutkan dengan diskusi santai namun tetap fokus pada hasil refleksi dan rencana tindak lanjut. Pada kesempatan itu para guru saling berbagi ide kreatif dalam memanfaatkan IFP melalui aplikasi kuis, permainan angka (matematika dasar), dengan menerapkan strategi bermain sambil belajar. Pada akhir diskusi dihasilkan kesepakatan penting,tentang jadwal Kombel Sekolah (Komunitas Belajar Sekolah) yang akan dilaksanakan secara rutin satu kali sebulan, di mana setiap guru terjadwal secara bergantian menjadi narasumber sesuai kompetensinya untuk saling berbagi praktik baik.

Di akhir sesi diskusi, Makruf Sodikin, S.Pd., MM.Pd. selaku Pengawas Sekolah berpesan bahwa segala sesuatu yang telah diprogramkan mohon untuk dikawal agar benar-benar terlaksana, dan mohon dipastikan juga agar setiap kegiatan yang akan dilaksanakan betul-betul telah terprogram dengan baik, sehingga setiap program bisa dipastikan akan membawa dampak nyata untuk peningkatan mutu Pendidikan di sekolah. (Makruf S Marmah)

Dari PMM ke SINDARA: Ganti Perahu dengan Navigasi Baru, Arah Kompas Tidak Pernah Berubah

  Dunia pendidikan adalah panggung perubahan yang tak pernah berhenti bergerak. Di tengah rutinitas mengajar, para pendidik kembali dihadapk...