Dunia pendidikan adalah panggung perubahan yang tak pernah
berhenti bergerak. Di tengah rutinitas mengajar, para pendidik kembali
dihadapkan pada transisi teknologi baru: peralihan kemudi dari Platform Merdeka
Mengajar (PMM) menuju Platform SINDARA (Sistem Informasi dan Integrasi Data
Guru Pendidikan Dasar). Wajar jika di sudut-sudut ruang guru terdengar helaan napas panjang atau
pertanyaan retoris, "Aplikasi baru lagi?", "Mengapa harus
berganti lagi?" Namun, jika kita menyelam lebih dalam, transisi ini
sejatinya adalah sebuah upaya untuk memanusiakan kembali proses belajar guru.
Tidak bisa dimungkiri, PMM telah berjasa besar dalam
mendemokratisasi akses pelatihan guru di seluruh pelosok negeri. Modul-modulnya
menjadi referensi utama implementasi Kurikulum Merdeka. Sayangnya, seiring
berjalannya waktu, muncul fenomena "berburu sertifikat" yang tak
jarang memicu kelelahan digital. Niat awal untuk mengembangkan diri kadang
terdistraksi oleh tumpukan target administratif, sehingga membuat sebagian guru
merasa berlari sendirian.
Kehadiran SINDARA bukanlah untuk menghapus jejak kebaikan
masa lalu, melainkan hadir sebagai penyempurna. Jika PMM membuat kita terbiasa
belajar mandiri secara individu, SINDARA mengajak kita untuk kembali berjalan
bergandengan tangan.
Platform baru ini mengembalikan muruah belajar guru ke
"rumah" sejatinya, yakni komunitas belajar seperti KKG (Kelompok
Kerja Guru), KKKS (Kelompok Kerja Kepala Sekolah), dan KKPS (Kelompok Kerja
Pengawas Sekolah). Sistem ini dirancang agar guru tidak lagi berkompetisi
mengumpulkan poin sendirian, melainkan berkolaborasi, berdiskusi hangat, dan
saling mendukung dalam komunitas. Melalui wadah inilah, guru diajak menyelami
isu-isu pendidikan masa depan, seperti Pembelajaran Mendalam (Deep Learning)
hingga kecerdasan buatan, dengan cara yang lebih membumi dan kontekstual.
Tentu saja, setiap sistem baru pasti membawa tantangan
tersendiri. Kita harus kembali belajar login, beradaptasi dengan fitur-fitur
baru, dan mengaktifkan kembali roda organisasi komunitas. Di sinilah pola pikir
bertumbuh (growth mindset) kita sebagai pendidik benar-benar diuji.
Saatnya kita mengubah sudut pandang. Jangan lagi melihat
SINDARA sekadar sebagai "kewajiban dari dinas", melainkan sebagai
ruang diskusi intelektual yang menyenangkan bersama rekan sejawat. Bagi yang
sudah mahir teknologi, rangkullah mereka yang masih kesulitan. Bagi yang merasa
tertinggal, jangan ragu meminta bantuan dari guru-guru yang lebih muda.
Pada akhirnya, secanggih apa pun sebuah sistem atau
aplikasi, ia hanyalah alat bantu administrasi. Roh sesungguhnya dari pendidikan
tidak terletak pada server digital, melainkan pada dedikasi, keikhlasan, dan
senyuman seorang guru di dalam ruang kelas.
Ada sebuah pepatah mengatakan, "Guru yang berhenti
belajar, sejatinya telah berhenti mengajar." Mari kita jadikan perubahan
sistem ini sebagai bukti bahwa kita adalah pembelajar sepanjang hayat.
Mari kita sambut SINDARA dengan tangan terbuka dan semangat
kebersamaan. Kita mungkin harus berganti perahu dan mempelajari navigasi yang
baru, namun arah kompas kita tidak pernah berubah, yakni mencerdaskan kehidupan
bangsa. Tetap semangat dan teruslah menyala wahai Para Pahlawan Tanpa Tanda
Jasa! (Makruf S. Marmah)
